hadits arbain tentang iman

HadisJibril (bahasa Arab: حديث جبرائيل ‎, Hadīts Jibraīl) adalah sebuah hadis yang memuat definisi tentang Islam, Iman, Ihsan, dan tanda-tanda hari kiamat menurut akidah umat Islam.Hadis ini diriwayatkan dari sahabat Umar bin Al-Khaththab dan Abu Hurairah.Hadis ini dapat ditemukan di kedua kitab Shahihain, Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, juga Arbain Nawawi hadits ke-2.
Haditsarba'in 40 Hadits pilihan disusun oleh Imam Nawawi rahimahullahu 1. Amalan bergantung pada Niat 2. Rukun Islam, Iman, dan Ihsan 3. Islam Dibangun di atas Lima Dasar 4. Takdir Setiap Manusia sudah Tertulis 5. Larangan Membuat Sesuatu yang Baru dalam Agama 6. Segala Hal yang Haram dan yang Halal telah Jelas 7. Agama Ini adalah Nasehat 8.
Hadits Arbain Ke 13 – Hadits Tentang Cinta Dan Kesempurnaan Iman merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah الأربعون النووية atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi Rahimahullahu Ta’ala. Kajian ini disampaikan pada 1 Rajab 1441 H / 25 Februari 2020 M. Status Program Kajian Kitab Hadits Arbain Nawawi Status program kajian Hadits Arbain Nawawi AKTIF. Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap Selasa sore pekan ke-2 dan pekan ke-4, pukul 1630 - 1800 WIB. Download juga kajian sebelumnya Hadits Arbain Ke 12 – Cara Manajemen Waktu Ceramah Agama Islam Tentang Hadits Arbain Ke 13 – Hadits Tentang Cinta Dan Kesempurnaan Iman Melanjutkan kajian kita, beranjak ke nomor 13 yaitu hadits Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Salam, beliau bersabda لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه “Tidaklah beriman seorang di antara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” HR. Bukhari dan Muslim Hadits ini diriwayatkan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu yang merupakan salah satu sahabat yang mulia. Beliau adalah salah satu orang terdekat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, karena beliau adalah pembantunya Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau karenanya menjadi salah satu sahabat dengan riwayat hadits paling banyak. Dan beliau didoakan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam doa yang masyhur اللهم أكثر ماله وولده وأدخله الجنة “Ya Allah perbanyaklah hartanya, perbanyaklah anak-anaknya dan masukkanlah dia kedalam surga.” Maka buah yang ditanam oleh Anas bin Malik Radhiyllahu Anhu berbuah dua kali dalam setahun ketika pohon buah orang lain hanya berbuah satu kali saja. Kemudian Anas bin Malik memiliki anak-anak yang sangat banyak. Bahkan dengan kedua tangan beliau, beliau menguburkan sekitar 125 orang dan mengenai doa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam ini beliau mengatakan, “Saya telah melihat dua dari tiga doa tersebut di dunia. Dan saya sedang menunggu yang ketiga.” Jadi yang pertama doa tentang banyaknya harta, sudah beliau rasakan. Doa tentang banyaknya anak-anak juga telah beliau rasakan. Dan beliau tinggal menunggu satu lagi yaitu doa dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam agar beliau bisa masuk surga. Dan insyaAllah beliau akan mendapatkan itu juga. Beliau wafat pada tahun 93 Hijriyah. Dan diberikan umur yang cukup panjang -semoga Allah meridhai beliau- Dalam hadits ini beliau meriwayatkan dari Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه “Tidaklah beriman seseorang diantara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” Terjemah leterleknya seperti ini, nanti kita akan tafsirkan apa arti iman yang dinafikan di sini. Ini adalah hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Dan hadits ini ditafsirkan oleh riwayat Ahmad yang bunyinya لاَ يَبْلُغُ عَبْدٌ حَقِيْقَةَ اْلإِيْمَانِ حَتَّى يُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ “Tidaklah seorang hamba mencapai hakikat iman iman yang sesungguhnya sampai dia mencintai untuk manusia apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan.” HR. Ahmad Jadi, yang dimaksud iman yang dinafikan dalam hadits riwayat redasi Al-Bukhari dan Muslim adalah kesempurnaan iman. Sehingga hadits ini bisa kita tafsirkan dengan mengatakan, “Tidaklah sempurna iman seseorang diantara kalian sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya sendiri.” Jadi yang dinafikan adalah kesempurnaan iman, bukan pokok iman. Artinya kalau sampai ada di antara kita yang belum sampai derajat/tingkat ini, masih tidak mencintai untuk saudara kita apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri, maka berarti orang tersebut tidak serta merta menjadi kafir. Karena yang dinafikan bukan pokok iman. Yang dinafikan adalah kesempurnaan iman. Namun kesempurnaan iman yang dimaksud adalah kesempurnaan iman yang wajib. Sebagaimana disebutkan dengan tegas oleh Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad Hafidzahullahu Ta’ala dalam Fathul Qawiyyil Matin fi Syarhil Arba’in. Jadi yang dinafikan adalah kesempurnaan iman yang wajib. Artinya kalau kita belum sampai derajat ini, kalau kita masih belum mencintai untuk saudara kita apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri, maka berarti ada yang kurang dengan iman kita. Bahkan sebagian ulama mengatakan berarti kita masih berdosa. Maka wajib bagi setiap muslim untuk mencintai bagi saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya sendiri. Kita wajib melakukan ini karena ini adalah kewajiban dalam Islam. Kalau tidak maka berkurang dari kita kesempurnaan iman yang wajib, berarti masih kurang iman kita. Dan mencintai di sini adalah amalan hati. Jadi yang wajib bagi kita adalah mengamalkan -dalam hal ini- dalam hati kita yaitu ketika kita mendapatkan kebaikan baik dalam urusan dunia maupun dalam urusan akhirat maka kita harus mencintai hal itu juga untuk saudara kita. Kita mengharapkan agar orang lain juga bisa merasakan kebaikan itu. Kita berharap orang lain juga bisa merasakan kenikmatan-kenikmatan yang kita dapatkan. Ini artinya adalah mencintai untuk saudara kita apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri. Bbukan berarti kita harus memberikan apa yang kita miliki kepada mereka, bukan itu yang menjadi kewajiban. Yang menjadi kewajiban kita adalah amalan hati. Bahwasannya ketika kita -misalnya- memiliki ilmu agama yang bermanfaat, maka kita berharap saudara kita yang lain juga bisa merasakan ilmu itu. Ketika kita mendapatkan sebuah nikmat duniawi, maka kita juga senang kalau seandainya saudara kita mendapatkan nikmat itu juga. Ini yang menjadi kewajiban kita. Tidak berarti kalau kita punya mobil, berarti kita harus memberikannya kepada saudara kita. Atau kalau kita punya uang yang banyak kita harus membaginya dengan saudara kita. Itu baik, tapi itu bukan suatu kewajiban dan itu bukan yang dimaksudkan oleh hadits ini. Yang penting adalah mengolah hati kita karena ini adalah amalan hati, kita mencintai untuk saudara kita apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri. Dan kita juga membenci untuk saudara kita apa yang kita benci untuk diri kita sendiri. Kita senang kalau dihormati, kita senang kalau dihargai, maka kita juga harus menghargai orang lain dan menghormati mereka. Kita tidak suka untuk didzalimi, tidak suka untuk direndahkan, maka kita tidak boleh pula untuk mendzalimi dan merendahkan orang lain. Ini adalah makna dari hadits ini. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam menafsirkan hadits yang agung ini dengan beberapa hadits yang lain. Diantaranya adalah hadits riwayat Abdullah bin Amr bin Ash Radhiyallahu Anhuma bahwasannya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ ، وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ ، فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ “Barangsiapa yang ingin dihindarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaklah ajal menjemput dia dalam keadaan dia beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan hendaklah dia mendatangi manusia dengan cara yang dia suka kalau manusia mendatangi dia dengan cara itu.” HR. Muslim Jadi kalau kita ingin dihindarkan dari api neraka dan dimasukkan kedalam surga ini adalah kemenangan yang sesungguhnya, ini adalah keberuntungan yang sejati, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ “Maka barangsiapa yang dihindarkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, maka dia sungguh telah menang.” QS. Ali-Imran[3] 185 Ini adalah kemenangan yang sesungguhnya. Bagaimana caranya? Caranya hendaklah kita mempertahankan iman kita sampai kita berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tetap beriman kepada Allah dan hari akhir kita pertahankan sampai akhir hayat kita. Harus istiqamah diatas agama ini. Kemudian hendaklah kita mendatangi manusia dengan cara yang kita suka kalau orang-orang mendatangi kita dengan cara itu. Artinya kita memperlakukan mereka dengan cara yang baik, sebagaimana kita suka kalau orang-orang memperlakukan kita dengan cara yang baik pula. Kita pergauli manusia cara dan akhlak yang baik. Kita perlakukan mereka dengan cara yang kita sukai kalau seandainya orang-orang itu memperlakukan kita dengan cara itu. Maka ini sesuai apa yang disampaikan di depan. Tidaklah sempurna iman seseorang sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. Kita semuanya ingin diperlakukan dengan baik. Berarti manusia juga seperti itu, orang lain juga seperti itu. Maka hendaknya kita mencintai untuk mereka apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri. Kalau kita ingin diperlakukan dengan baik, hendaknya kita memperlakukan manusia dengan cara yang baik pula. Dalam hadits riwayat Muslim yang lain, dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu beliau meriwayatkan. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengatakan kepada saya يا أبا ذَرّ،إنِّي أَرَاك ضعِيفًا، وَإنِّي أُحِبُّ لكَ مَا أُحِبُّ لِنَفسي “Wahai Abu Dzar, sungguh aku melihatmu adalah orang yang lemah. Maka aku mencintai untuk dirimu apa yang aku cintai untuk diriku sendiri.” HR. Muslim Nasehat yang beliau sampaikan kepada Abu Dzar, beliau jelaskan demikian. Kemudian beliau menyambung لا تَأَمَّرَنَّ عَلَى اثْنَيْن “Wahai Abu Dzar, jangan sekali-kali engkau menjadi pemimpin untuk dua orang.” Setiap orang mempunyai kelebihan dan kelemahannya. Ada sebagian orang yang titik lemahnya adalah ketika menjadi pemimpin, ketika memegang jabatan. Sebagian orang kelemahannya bukan di tahta, tapi ketika berhadapan dengan harta. Sebagian orang lagi titik lemahnya ketika berhadapan dengan wanita lawan jenis. Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mengenal karakter sahabat-sahabat beliau. Beliau memahami kelebihan masing-masing dan juga memahami kekurangan masing-masing. Maka ini masyaAllah sebuah hadits yang berbicara tentang kelemahan Abu Dzar tapi disampaikan oleh Abu Dzar. Beliau mengorbankan -bisa dikatakan- kehormatan beliau karena beliau disebut sebagai orang yang lembah di hadits ini. Tapi beliau tetap menyampaikan hadits ini karena dalam hadits ini ada ilmu yang agung, ada ilmu agama yang harus disampaikan, umat harus tahu tentang hal ini. Dalam hadits ini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang mempraktekkan hadits yang beliau sampaikan. Beliau mengatakan, “Wahai Abu Dzar, sungguh aku melihatmu sebagai orang yang lemah dan aku mencintai untuk dirimu apa yang aku cintai untuk diriku sendiri, maka jangan engkau menjadi pemimpin untuk dua orang apalagi lebih” Dua orang saja beliau khawatir akan tidak amanah. Lalu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melanjutkan وَلا تُوَلَّيَنَّ مَالَ يتِيمٍ “Jangan juga engkau mengurus harta anak yatim.” Di sini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat bahwasannya Abu Dzar bukan orang yang cakep untuk mengurus dua hal ini. Maka beliau melarang Abu Dzar untuk berurusan dengan dua hal ini. Tentunya ditengah lautan kelebihan yang dimiliki oleh Abu Dzar Radhiyallahu Anhu. Tapi di sini ada kelemahan Abu Dzar yang dideteksi oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka beliau memperingatkan Abu Dzar untuk tidak mengurusi dua hal ini sebagai pengamalan dari cinta kepada sesama muslim, cinta kepada sahabat beliau, sebagai implementasi bahwasannya beliau telah mencapai derajat iman yang sempurna. Dan konsekuensinya adalah beliau mencintai untuk sahabat beliau apa yang beliau cintai untuk diri beliau sendiri. Beliau ingin selamat di akhirat. Maka beliau ingin agar Abu Dzar juga selamat di akhirat dengan tidak mengurus dua hal ini. Jadi hadits ini juga menunjukkan bahwasannya kalau kita mendapati saudara kita ada kekuranga/kelemahan, maka hendaknya kita berusaha meluruskan/memperbaiki, membuat dia lebih baik lagi, termasuk dengan mengingkari kesalahan dia jika dia salah. Karena kita tentunya juga ingin kalau saudara kita selamat di akhirat, ingin hisab dia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berat. Sebagaimana kita juga ingin seperti itu. Kita ingin selamat di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita ingin selamat di akhirat. Maka kalau kita mendapatkan saudara kita melakukan suatu kesalahan atau berada pada kondisi yang tidak baik, maka kita berusaha untuk menyelamatkan diri, menegur dia, menasehati dia. Ini termasuk juga poin pembahasan hadits ini. Hadits ini juga punya pesan tersirat. Kalau pesan tersuratnya adalah kita harus mencintai untuk saudara kita apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri, pesan tersiratnya adalah kita harus membenci untuk saudara kita apa yang kita benci untuk diri kita sendiri. Jadi, kalau kita tidak suka untuk dizalimi, dihina, direndahkan, maka kita tidak boleh melakukan hal itu untuk saudara-saudara. Kita juga harus membenci hal itu untuk saudara kita, jangan lakukan itu kepada saudara kita. Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam mengatakan الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَكْذِبُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ “Seorang muslim adalah saudara untuk muslim yang lain. Janganlah dia mendzaliminya, janganlah dia merendahkannya, janganlah dia menghinakannya.” HR. Muslim Ini semua dilarang. Dan ini selaras dengan hadits yang menjadi pembahasan kita hari ini. Kita semuanya tidak suka kalau kita diperlakukan dengan tiga hal tadi itu; didzalimi, direndahkan, dihinakan, kita tidak suka itu. Maka kita juga harus membenci hal itu untuk saudara kita. Tidak boleh kita melakukan hal itu untuk saudara kita sesama muslim. Juga dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam hadits yang masyhur dari Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullahu Ta’ala dengan sanad yang shahih. Dari Abu Umamah Radhiyallahu Anhu Bahwasanya ada seorang pemuda yang datang kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, kemudian beliau mengatakan kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam يَا رَسُولَ اللَّهِ ، ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا “Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk berzina.” Subhanallah, beliau jujur, beliau tidak bisa menyembunyikan gelora muda beliau. Memang anak muda itu syahwatnya sedang kuat-kuatnya. Makanya kalau ada anak muda yang bisa mengontrol imannya, bisa memenangkan iman diatas syahwatnya, bisa memenangkan akal sehat diatas syahwatnya, itu adalah sebuah prestasi yang kemudian orang yang melakukan itu dipuji oleh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam sabda beliau شاب نشأ في طاعة الله “Diantara 7 golongan yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat adalah pemuda yang tumbuh di atas ketaatan.” Pemuda yang bisa menaklukkan syahwatnya, pemuda yang bisa mengalahkan syahwatnya dengan kuatnya iman dan akal sehat. Pemuda ini terus terang mengatakan kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi wa Sallam minta izin, “Yaa Rasulullah, izinkan aku untuk berzina.” Maka para sahabat marah, mengingkari dia dengan keras. Tapi Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang mereka untuk menyikapi sahabat ini dengan keras. Tapi beliau mengajak pemuda untuk diskusi. Dia katakan, “Apakah engkau rela ibumu dizinai oleh orang lain?” Maka dia mengatakan, “Tidak wahai Rasulullah.” Dan orang-orang juga tidak rela kalau ibu mereka dizinai. Terus kemudian bertanya lagi, “Apakah engkau rela hal ini terjadi pada anak perempuanmua?” Lagi-lagi sahabat ini mengatakan “Tidak Rasulullah, aku tidak rela kalau putriku dizinai.” Dan tidak ada seorangpun yang rela kalau putrinya dizinai. “Apakah engkau rela jika ini terjadi pada saudarimu? Apakah engkau rela jika hal ini terjadi pada bibimu?” Dan semuanya dijawab oleh pemuda ini dengan mengatakan, “Tidak wahai Rasulullah, aku tidak rela kalau itu terjadi pada saudariku, bibiku.” Dan orang-orang juga tidak rela kalau itu terjadi pada keluarga mereka. Di sini Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajak pemuda ini untuk menyempurnakan imannya. Beliau mengajak pemuda ini untuk mengamalkan sebuah tanda iman yang sempurna. Yaitu mencintai untuk saudara kita sesama muslim apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri. Dan membenci untuk saudara kita sesama muslim apa yang benci untuk diri kita sendiri. Kalau kita tidak rela zina itu terjadi pada ibu kita, putri kita, saudari kita, bibi kita, maka bagaimana kita rela hal tersebut terjadi pada ibunya orang lain, putrinya orang lain, saudari orang lain, bibinya orang lain. Dan tidak ada wanita di dunia ini kecuali mereka memiliki salah satu sifat itu. Apakah itu ibunya teman kita, atau dia adalah putri dari salah seorang muslim atau dia adalah saudarai dari muslim nun jauh di sana, dan seterusnya. Maka kalau kita tidak rela itu terjadi pada keluarga kita, maka kita juga tidak boleh rela hal itu terjadi pada orang lain. Kita harus hindari itu. Kemudian Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam memegang pemuda ini dan mendoakannya agar diampuni oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diberikan taufik dalam kehidupannya. Kalau sampai kita tidak mempraktekkan hal ini, maka konsekuensinya adalah kita masih berdosa, kita masih belum memiliki kesempurnaan iman yang wajib, masih ada yang banyak kita perbaiki dalam kehidupan kita. Dan juga celaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Muthaffifin وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ ﴿١﴾ Wail adalah lembah di jahanam. Menurut penafsiran yang lain dia adalah “celaka”. Untuk siapa? Untuk orang-orang yang mengurangi. Apa maksudnya mengurangi? Ditafsirkan dalam ayat yang selanjutnya الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ ﴿٢﴾ “Mereka adalah orang-orang yang kalau orang lain menakar untuk mereka, mereka ingin diberikan haknya secara sempurna.” QS. Al-Mutaffifin[83] 2 وَإِذَا كَالُوهُمْ أَو وَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ ﴿٣﴾ “Tapi kalau giliran mereka yang menakar atau mereka yang menimbang, maka mereka mengurangi.” QS. Al-Mutaffifin[83] 3 Jadi kalau berbicara tentang hak, mereka kuat menuntut, harus penuh, harus lengkap, tidak boleh dikurangi. Tapi ketika berbicara tentang kewajiban mereka seenaknya sendiri, timbangan mereka kurangi, takaran tidak mereka penuhi, hati-hati kalau sampai kita seperti itu. Berarti kita belum mewujudkan sifat mukmin yang tadi itu. Mencintai untuk saudara kita apa yang kita cintai untuk diri kita sendiri dan membenci untuk mereka apa yang kita benci untuk diri kita sendiri. Simak penjelasan selanjutnya pada menit ke-2705 Download mp3 Ceramah Agama Islam Tentang Hadits Arbain Ke 13 – Hadits Tentang Cinta Dan Kesempurnaan Iman Podcast Play in new window DownloadSubscribe RSS Lihat juga Hadits Arbain Ke 1 – Innamal A’malu Binniyat Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda. Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui Telegram Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui Facebook Pencarian hadits tentang cinta dalam diam, hadist tentang cinta wanita, hadist tentang cinta beserta arabnya, hadist tentang cinta arab, hadist tentang cinta kepada lawan jenis, hadits tentang perasaan, hadist tentang cinta kepada lawan jenis beserta arab dan artinya, hadits tentang mengungkapkan perasaan, hadits tentang cinta kepada sesama muslim, hadits tentang cinta arbain nawawi, hadits tentang cinta dalam Islam.
Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati." (HR Bukhari dan Muslim) Kandungan Hadits: 1. Ada perkara-perkara yang jelas-jelas diperbolehkan. Ada perkara-perkara yang jelas-jelas dilarang, dan ada perkara-perkara yang syubhat [samar], yakni tidak jelas halal dan haramnya. Imam Nawawi berkata: "Segala sesuatu dibagi menjadi tiga: ".
Alhamdulillah, kita memuji, memohon pertolongan, dan memita ampun hanya kepada-Nya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, serta para pengikutnya hingga hari kiamat. Pada artikel ini, kita akan mengkaji bersama hadits kedua dari kitab arba'in nawawi, yaitu hadits tentang islam iman dan ihsan. Lalu kita akan mengetahui apa maksud dari hadits tersebut, serta faedah apa saja yang dapat kita ambil. A. Hadits Tentang Islam, Iman dan Ihsan عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ أَيضاً قَال بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَاب شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إِلَى النبي صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَم، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ الله، وَتُقِيْمَ الصَّلاَة، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البيْتَ إِنِ اِسْتَطَعتَ إِليْهِ سَبِيْلاً قَالَ صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ، قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِالله، وَمَلائِكَتِه، وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الآَخِر، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ، قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ مَا الْمَسئُوُلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِها، قَالَ أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرى الْحُفَاةَ العُرَاةَ العَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثَ مَلِيَّاً ثُمَّ قَالَ يَا عُمَرُ أتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟ قُلْتُ اللهُ وَرَسُوله أَعْلَمُ، قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ B. Terjemahan Hadits Dari Umar radhiyallaahu anhu juga ia berkata Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam. Padanya tidak tampak bekas perjalanan jauh dan tidak ada diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk di hadapan Nabi lalu menyandarkan kedua lututnya pada lututnya Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, seraya berkata “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam!” Maka Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda “Islam adalah engkau bersaksi bahwasanya tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikkan zakat, puasa Ramadhan, dan haji jika mampu.” Kemudian dia berkata “Engkau benar!” Kamipun terheran, dia sendiri yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi “Beritahukan aku tentang Iman!” Lalu beliau bersabda “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk” Kemudia dia berkata “Engkau benar!” Kemudian dia berkata lagi “Beritahukan aku tentang ihsan!” Lalu beliau bersabda “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau.” Kemudian dia berkata “Beritahukan aku tentang hari kiamat kapan kejadiannya.” Beliau bersabda “Yang ditanya tidak lebih tahu dari pada yang bertanya.” Dia berkata ”Beritahukan aku tentang tanda-tandanya!“ Beliau bersabda “Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, kemudian berlomba-lomba meninggikan bangunannya.“ Kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau bertanya “Tahukah engkau siapa yang bertanya?”. Aku berkata “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui“. Beliau bersabda “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.“ C. Penjelasan Hadits Tentang Islam Iman dan Ihsan 1. Sekilas Tentang Isi Hadits Ini Hadits ini adalah hadits yang sangat agung. Hadits ini menjelaskan tentang agama secara menyeluruh, mulai dari rukun Islam, rukun Iman, Ihsan, dan juga dijelaskan tentang tanda-tanda hari kiamat. Karena itulah, setelah Nabi shallallaahu alaihi wasallam menjelaskan tentang Islam, Iman dan Ihsan, diakhir kata beliau bersabda فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ “Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.“ Hadits ini merupakan kumpulan ilmu dan pengetahuan yang semuanya akan kembali kepada hadits ini dan tercakup di bawahnya. Apabila para ulama membahas ilmu maka mereka tidak keluar dari cakupan hadits ini. Dalam hadits ini juga dijelaskan bahwa dalam beragama seseorang memiliki beberapa tingkatan, yakni ada yang berada di tingkat muslim, kemudian mukmin, dan yang tertinggi adalah muhsin. 2. Apa Itu Islam? Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa hakikat Islam adalah bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikkan zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke baitullah bagi yang mampu. Kelima perkara ini merupakan rukun yang wajib ditunaikkan dengan keyakinan di dalam hati. Kemudian dilanjutkan dengan mengerjakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan dalam Islam lainnya. Karena mengerjakan kewajiban dan meninggalkan larangan lainnya merupakan penyempurna dari kelima rukun tersebut. Rukun-rukun tersebut merupakan pondasi berdirinya Islam, kemudian barulah datang amalan-amalan lainnya baik yang bersifat wajib maupun sunnah. Apabila kita meninggalkan rukun ini maka amalan lainnya baik yang bersifat wajib maupun sunnah tidak akan bermanfaat. Kelima rukun tersebut bukanlah Islam secara menyeluruh, karena ia hanyalah rukun dan tiang-tiangnya Islam. Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ Islam dibangun di atas lima perkara yaitu syahadat bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikkan zakat, haji, dan puasa Ramadhan. HR. Bukhari 8 Islam itu luas, ia mencakup semua yang diperintahkan oleh Allah dan yang menjadi larangan-Nya. Maka dari itu, apabila kita tinggalkan salah satu dari rukun tersebut maka Islam kita tidaklah sah. Namun, apabila kita tinggalkan selain dari rukun-rukun tersebut maka Islam kita tetap sah, hanya saja tidak sempurna tergantung banyaknya perkara dalam Islam yang ditinggalkan. Secara menyeluruh Islam dapat diartikan “Berserah diri kepada Allah azza wa jalla dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan, dan berlepas diri dari kesyirikan serta pelakunya.” 3. Rukun Pertama Dua Kalimat Syahadat Apa itu Syahadat? Syahadat berarti menyatakan apa yang ada di dalam hati dengan lisannya, karena syahadat adalah ucapan dan pemberitahuan tentang apa yang ada di dalam hati. Syahadat tidaklah cukup dengan lisan, karena orang munafikpun bersyahadat dengan lisannya tetapi tidak dengan hatinya. Dua kalimat syahadat ini adalah satu rukun yang tidak bisa dipisahkan. Karena apabila kita hanya bersyahadat أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ الله namun mengingkari أَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ اللهِ maka syahadatnya tidak sah. Syahadat أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ الله berarti mengharuskan keikhlasan, sedangkan syahadat أَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ اللهِ berarti mengharuskan ittiba’. Dan semua amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak akan diterima kecuali dengan ikhlas dan ittiba’. Makna Dua Kalimat Syahadat Makna syahadat yang pertama “أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ الله” adalah “Aku mengakui dan meyakini bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah.” Maksud dari “لَا إِلَهَ” tidak ada tuhan bukan berarti menafikan keberadaan tuhan atau sesembahan, akan tetapi maksudnya adalah menafikan hak sesembahan. Karena sebagaimana yang kita ketahui bahwa sesembahan itu sangatlah banyak, seperti pohon, batu, berhala, matahari, kuburan dan sesembahan-sesembahan batil lainnya. Namun, yang berhak untuk disembah hanya satu yaitu Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ Kuasa Allah yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Tuhan Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. QS. Al-Hajj 62 Makna syahadat yang kedua “أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدَاً رَسُولُ اللهِ” adalah “Aku mengakui dan menyatakan bahwa Muhammad adalah Rasul Allah yang diutus untuk seluruh manusia, dan dua golongan yakni jin dan manusia.” Pengakuan dan pernyataan kerasulan Muhammad ini harus dengan hati dan dengan lisannya. Karena siapa yang mengakui dengan lisannya saja maka ia adalah munafik. Demikian apabila mengakui dengan hatinya juga tidaklah cukup karena orang Yahudi dan Nasranipun mengakui dengan hatinya bahwa Muhammad adalah Rasulullah, akan tetapi mereka malah kufur terhadapnya dan tidak mau mengakui dengan lisannya. Allah ta’ala berfirman الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ Orang-orang Yahudi dan Nasrani yang telah Kami beri Al Kitab Taurat dan Injil mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. QS. Al-Baqarah 146 Maka bagi seorang yang bersyahadat dan mampu mengucapkannya dengan lisannya ia juga harus mengikrarkannya dengan lisan. Konsekwensi Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat Konsekwensi dari syahadat yang pertama adalah mengikhlaskan atau memurnikan ibadah hanya untuk Allah. Inilah yang disebut dengan tauhid uluhiyyah atau tauhid ibadah. Karena makna dari syahadat yang pertama ini adalah “Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah.” Oleh karena itu, barang siapa yang bersyahadat dengan syahadat yang pertama ini maka ia harus memurnikan ibadah untuk Allah dan menjauhi riya’ serta kesyirikan lainnya. Barang siapa yang bersyahadat dengan syahadat ini lalu ia menyembah kepada selain Allah maka ia adalah pendusta. Konsekwensi dari syahadat yang kedua adalah Pertama, membenarkan apapun yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam tanpa keraguan sedikitpun. Kedua, mengikuti perintah-perintahnya serta menjauhi larangannya dengan segenap kemampuannya tanpa pilah-pilih mana yang cocok untuk dirinya. Ketiga, mendahulukan perkataan Nabi shallallaahu alaihi wasallam dari pada perkataan manusia selainnya. Tidaklah pantas apabila telah sampai hadits Nabi kepada kita kemudian kita mengatakan “Kata Syaikh atau Imam fulan begini dan begitu” Keempat, tidak mengada-ngadakan syariat baru yang tidak disyariatkan oleh Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam. Karena diantara makna syahadat yang kedua ini adalah meninggalkan bid’ah atau perkara baru dalam agama. Kelima, mengamalkan syariat Nabi Muhammad shallallaahu alaihi wasallam disertai dengan tashdiq membenarkan. Karena mengamal tanpa disertai dengan tashdiq adalah peringainya orang-orang munafik. Mereka ikut shalat, puasa, haji, bahkan jihad, akan tetapi mereka tidak membenarkan apa yang datang dari Rasulullah. Keenam, tidak meyakini adanya sifat rububiyyah di dalam diri Nabi shallallaahu alaihi wasallam. Karena ia hanyalah manusia biasa dan hamba Allah yang diutus oleh Allah. 4. Rukun Kedua Mendirikan Shalat Mengapa rukun yang kedua adalah “Mendirikan Shalat”? Mengapa tidak disebut “Shalat” saja? Karena yang dikehendaki bukan hanya melaksanakan shalat saja akan tetapi benar-benar mendirikan shalat. Dan tidaklah dikatakan mendirikan shalat hingga ia mengerjakan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, dan juga hal-hal yang diwajibkan di dalam shalat itu sendiri. Mendirikan shalat berarti Pertama, melaksanakan shalat sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam. Tidaklah dapat dikatakan mendirikan shalat apabila kita melaksanakan shalat sembarangan. Karena hal itu menyalahi sabda Nabi وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat HR. Bukhari 631 Kedua, melaksanakan shalat tepat pada waktunya. Allah ta’ala berfirman إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. QS. An-Nisa’ 103 Ketiga, benar-benar tunduk dan khusyuk serta menghadirkan hatinya dalam melaksanakan shalat. Karena shalat tidak hanya sekedar gerakan dan ucapan tanpa arti. Namun, shalat adalah ibadah yang juga melibatkan kekhusyukan hati. Karena khusyuk adalah ruhnya shalat. Allah ta’ala berfirman قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu' dalam shalatnya QS. Al-Mu’minun 1-2 Keempat, melaksanakan shalat di masjid secara berjamaah. Melaksanakan shalat di masjid secara berjamaah hukumnya wajib. Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِهِ، فَلَا صَلَاةَ لَهُ، إِلَّا مِنْ عُذْرٍ Barang siapa yang mendengar adzan, lalu ia tidak mendatanginya maka tidak ada shalat baginya kecuali karena uzur HR. Ibnu Majah 793 5. Rukun Ketiga Membayar Zakat Zakat merupakan hak yang diwajibkan oleh Allah ta’ala agar ditunaikkan oleh orang kaya kepada orang miskin. Allah ta’ala berfirman وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. QS. Adz-Dzariyat 19 Apabila zakat dibayarkan dengan senang hati maka Allah akan menerimanya. Namun, apabila mengingkari wajibnya zakat maka hukumnya kafir. Apabila seseorang sudah tau bahwa zakat itu wajib namun ia tidak mau membayarnya maka pemerintah wajib mengambilnya secara paksa, atau menegurnya, atau memberinya pelajaran. Apabila ada pasukan yang menghalangi pemerintah untuk mengambil zakatnya maka pemerintah wajib memeranginya hingga ia mau membayar zakatnya. 6. Rukun Keempat Puasa Bulan Ramadhan Puasa selama sebulan penuh wajib di tunaikkan oleh seorang muslim di setiap bulan Ramadhan. Allah ta’ala berfirman شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan permulaan Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang bathil. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di negeri tempat tinggalnya di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu QS. Al-Baqarah 185 Namun, apabila ia berhalangan maka hendaknya ia ganti puasa itu di hari yang lain. Allah ta’ala berfirman وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan lalu ia berbuka, maka wajiblah baginya berpuasa, sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain QS. Al-Baqarah 185 7. Rukun Kelima Haji Bagi yang Mampu Haji secara bahasa artinya menyengaja. Adapun secara syar’i yaitu sengaja mengunjungi baitul haram untuk menunaikkan manasik haji dan umrah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Haji dan umrah adalah ibadah yang pelaksanaannya dilaksanakan di masjidil haram dan tempat-tempat sekitarnya yang telah di tentukan. Adapun waktunya, khusus haji hanya dilaksanakan di bulan tertentu, sementara umrah bisa dilaksanakan kapanpun di sepanjang tahun. Allah ta’ala berfirman الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ Musim haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi QS. Al-Baqarah 197 Haji wajib ditunaikkan bagi yang mampu baik dari kemampuan harta, badan, maupun perjalanan. Allah ta’ala berfirman وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah QS. Ali Imran 97 Haji hanya diwajibkan sekali dalam seumur hidup. Di dalam hadits disebutkan, bahwa Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam berkhutbah أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمُ الْحَجَّ، فَحُجُّوا Wahai manusia, Allah telah mewajibkan haji pada kalian! Maka berhajilah! فَقَالَ رَجُلٌ أَكُلَّ عَامٍ يَا رَسُولَ اللهِ؟ Lalu ada seorang lelaki bertanya “Apakah setiap tahun wahai Rasulullah?” فَسَكَتَ حَتَّى قَالَهَا ثَلَاثًا، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ قُلْتُ نَعَمْ لَوَجَبَتْ، وَلَمَا اسْتَطَعْتُمْ Maka Rasulullah diam hingga lelaki itu bertanya tiga kali. Lalu Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda Seandainya aku mengatakan “Ya” maka akan menjadi wajib dan kalian tidak akan mampu. HR. Muslim 1337 Demikianlah pembahasan hadits tentang Islam Iman dan Ihsan dicukupkan hingga pembahasan Islam terlebih dahulu. Untuk pembahasan Iman dan Ihsan insya Allah akan kita pelajari pada artikel selanjutnya. Barakallaahufiikum. SEKILAS TENTANG KITAB HADITS ARBA'IN NAWAWI Hadits Arbain An-Nawawi Kitab hadits Arbain an-Nawawi merupakan kitab yang menghimpun hadits-hadits penting yang termasuk Jawami al-Kalim singkat tapi padat makna. Kitab ini berukuran kecil dan tidak asing di tengah kaum Muslimin, bahkan banyak dihafal oleh para penuntut ilmu di berbagai penjuru dunia. Hal tersebut karena walaupun kitab ini kecil, namun sarat dengan nilai-nilai dasar Syariat Islam yang sangat penting, yang hanya memuat 42, hadits namun merupakan intisari ajaran Islam. Oleh karena itu, kami menyajikan buku ini untuk Anda, dalam format memuat matan hadits Arbain an-Nawawi dan terjemahnya, berikut intisari kandungan hadits berdasarkan syarah Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, yang disajikan dengan bahasa yang lugas dan jelas, simpel dan praktis, yang menjadikan buku ini cocok untuk dibaca oleh semua kalangan, baik tua maupun muda, kalangan terpelajar maupun masyarakat awam. Buku ini adalah rujukan primer bagi kaum Muslimin, bahkan patut dimasyarakatkan agar Anda berminat memiliki kitab ini, dapatkan dengan mengklik gambar di bawah ini Refrensi Al-Arbaun An-Nawawiyyah Imam An-Nawawi Jamiul Ulum wal Hikam Ibnu Rajab Syarah Al-Arbain An-Nawawiyyah Al-Utsaimin Al-Minhatur Rabbaniyyah fii Syarh Al-Arbain An-Nawawiyyah Shalih Al-Fauzan Klik untuk Membaca Penjelasan Hadits Tentang Islam Iman dan Ihsan Bagian 2
Haditsarba'in yang kedua ini menjelaskan tentang Islam, iman, dan ihsan. Ketiga hal ini termasuk ke dalam pondasi dalam beragama karena mencakup seluruh peribadatan baik yang lahir maupun batin. Hadits tentang Islam, iman, dan ihsan ini diriwayatkan oleh Imam Muslim. Daftar Isi Bunyi lengkap hadits tentang Islam, iman, dan ihsan
Kali ini kita melanjutkan lagi pembahasan hadits Jibril, hadits kedua dari Hadits Arbain An-Nawawiyah karya Imam Nawawi rahimahullah. Sebelumnya yang dikali adalah perihal rukum Islam. Kali ini yang dikaji adalah perihal rukun iman. Lanjutan dari hadits Umar bin Al-Khathab radhiyallahu anhu, وَقاَلَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَمِ ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ ، وَتَحُجَّ البَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً . Selanjutnya ia berkata, “Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Islam itu engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.” قَالَ صَدَقْتَ فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِيْمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ Orang itu berkata, “Engkau benar.” Kami pun heran, ia bertanya lalu membenarkannya. Orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang Iman.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada para rasul-Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Orang tadi berkata, “Engkau benar.” HR. Muslim, no. 8 Pelajaran Bagian Kedua dari Hadits 02 Hadits ini menunjukkan keutamaan Islam. Dan sepatutnya apa yang pertama kali ditanyakan oleh seseorang adalah tentang Islam. Oleh karena itu, ketika Nabi shallallahu alaihi wa sallam hendak mengirim para utusan untuk berdakwah kepada Allah, beliau memerintahkan mereka untuk memulai dakwah tersebut dengan persaksian “Laa ilaha illallah wa anna Muhammadar Rasulullah”, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Rukun Islam itu ada lima sebagaimana disebutkan dalam hadits ini, dan dikuatkan pula dengan hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhuma pada hadits nomor ketiga dari kumpulan hadits Al-Arba’in An-Nawawiyah. Keutamaan shalat, dan bahwa shalat didahulukan sebelum rukun-rukun lainnya setelah dua kalimat syahadat syahadatain. Anjuran untuk mendirikan shalat dan melaksanakannya istiqamah terus menerus, dan shalat termasuk salah satu rukun Islam. Menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan dan melaksanakan ibadah haji ke Baitullah termasuk rukun Islam. Perpindahan dari perkara lebih rendah ke perkara yang lebih tinggi yaitu dari Islam ke Iman. Semua orang bisa berislam dengan melakukan amalan lahiriyah sebagaimana yang disebutkan dalam ayat yang artinya, “Orang-orang Arab Badui itu berkata, Kami telah beriman.’ Katakanlah kepada mereka, Kamu belum beriman, tetapi katakanlah Kami telah tunduk berislam.’” QS. Al-Hujurat 14. Adapun iman adalah perkara batin dalam hati. Islam dan Iman masuk dalam istilah para ulama, “Idzajtama’a iftaroqo, wa idza iftaraqa ijtama’a”, jika kedua kata tersebut disebutkan berbarengan, maknanya berbeda; namun jika kedua tersebut disebutkan secara terpisah, maka maknanya sama. Jika Islam dan Iman disebutkan bersamaan, maka yang dimaksud Islam adalah amalan lahiriyah sedangkan Iman adalah amalan batin berupa keyakinan-keyakinan hati. Rukun iman itu ada enam. Keenam rukun iman ini jika dijalankan dengan benar, maka akan mewariskan kepada pemiliknya kekuatan untuk memohon dalam melaksanakan ketaatan dan rasa takut kepada Allah. Barangsiapa mengingkari salah satu dari rukun iman, ia telah kafir, karena ia telah mendustakan apa yang telah dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Kita harus menetapkan adanya malaikat dan wajibnya beriman kepada para malaikat. Malaikat itu berbentuk jasad. Contohnya saja malaikat Jibril dalam wujud aslinya memiliki 600 sayap yang menutupi ufuk. Keliru jika mengatakan bahwa malaikat hanya berupa ruh saja, tidak memiliki jasad. Keliru juga jika mengatakan bahwa malaikat adalah kiasan untuk kekuatan kebaikan yang ada dalam diri manusia, sedangkan setan adalah kiasan untuk kekuatan kejahatan. Kita harus beriman kepada seluruh Rasul. Jika seseorang beriman kepada Rasulnya saja dan mengingkari Rasul selainnya, maka berarti ia belum beriman kepada Rasulnya, bahkan dia termasuk orang kafir. Kita harus beriman pada hari Akhir yang disebut hari kiamat, di mana manusia dibangkitkan dari kubur mereka untuk dilakukannya hisab perhitungan dan diberi balasan, yang berakhir dengan tinggalnya penduduk surga di tempat mereka dan juga penduduk neraka di tempatnya. Wajib kita beriman pada takdir yang baik dan yang buruk. Takdir itu tidak berisi sesuatu yang buruk, yang buruk hanya pada yang telah ditakdirkan maqdur. Penjelasan hal ini adalah bahwa perkara takdir yang berkaitan dengan perbuatan Allah seluruhnya baik. Mengapa Allah menakdirkan kejelekan? Karena ada hikmah di balik itu seperti 1 agar kebaikan dapat dikenal; 2 supaya manusia menyandarkan diri pada Allah; 3 supaya manusia bertaubat kepada-Nya setelah ia berbuat dosa; 4 banyak meminta perlindungan kepada Allah dari keburukan dengan berdzikir dan berdoa; 5 ada maslahat besar di balik kesulitan atau musibah yang menimpa. Keburukan disandarkan pada makhluk, bukan disandarkan pada Allah. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Kejelekan tidaklah disandarkan kepada-Mu.” HR. Muslim Kita tidak boleh menjadikan qadha dan qadar Allah sebagai alasan untuk meninggalkan perintah dan melakukan larangan-Nya. Allah telah memiliki hujjah atas kita melalui kitab-kitab yang diturunkan dan rasul yang diutusnya. Dalam ayat disebutkan yang artiya, “Allah tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” QS. Al-Anbiya’ 23 Allah tidaklah memaksa seorang pun untuk mengerjakan kemaksiatan atau meninggalkan ketaatan, manusia tetap punya pilihan. Ada dua macam iradah kehendak, yaitu iradah kauniyyah dan iradah syar’iyyah. Iradah kauniyyah adalah iradah yang semakna dengan masyiah kehendak yang pasti terjadi. Iradah syar’iyyah adalah iradah yang semakna dengan mahabbah kecintaan. Iradah kauniyyah itu pasti terjadi namun belum tentu Allah cintai. Sedangkan iradah syari’iyah itu kehendak Allah yang Dia cintai tetapi tidak mesti terjadi. Contoh, berimannya Abu Bakar Ash-Shiddiq terdapat di dalamnya iradah kauniyyah karena hal itu terjadi dan terdapat pula iradah syar’iyah karena beriman itu dicintai Allah. Sedangkan kafirnya Fir’aun terjadi secara iradah kauniyyah, namun tidak dicintai oleh Allah. Semoga bermanfaat. Bersambung insya Allah pada rincian rukun Iman. Referensi Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya. Syarh Lum’ah Al-I’tiqad. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Penerbit Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Jumat siang, 14 Shafar 1439 H Oleh Muhammad Abduh Tuasikal Artikel
\n hadits arbain tentang iman
HaditsArbain adalah kumpulan hadits yang dikumpulkan oleh Imam Nawawi untuk memudahkan kaum muslimin dalam memahami Islam. Kumpulan hadits yang terkemas dalam kitab Arbain Nawawi ini berisikan 40 hadits utama yang mengandung esensi kehidupan umat Islam.. Sebenarnya, ada banyak kitab hadits Arbain yang disusun oleh beberapa ulama, tetapi kitab Arbain dari Imam Nawawi-lah yang terkenal dan
Berikut adalah hadits kedua dari kitab hadits arbain nawawi, hadits yang menjelaskan bahwa tentang rukun iman, rukun islam dan ihsan. Mempelajari hadits ini akan meningkatkan wawasan dan pengetahuan kita tentang Rukun Islam, Rukun Iman dan Ihsan. serta menjadikan diri kita mempunyai akhlaq yang sempurnaعَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ اَيْضًا قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ اِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لَايُرَى عَلَيْهِ اَثَرُ السَّفَرِ، وَلَايَعْرِفُهُ مِنَّا احَدٌ, حَتَّى جَلَسَ اِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيهِ وَوَضَعَ كفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَامُحَمَّدٌ اَخْبِرْنِي عَنِ الْاِسْلَامِ , فَقَالَ رَسُوْلُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ الْإِسْلَامُ اَنْ تَشْهَدَ اَنْ لَااِلَهَ إِلَّااللّهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّهِ وَ تُقِيْمَ الصَّلَاةَ وَ تُؤْتِيَ الزَّكَاةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ اِنِ اسْتَطَعْتَ اِلَيْهِ سَبِيْلًا قَالَ صَدَقْتَ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ , قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيْمَانِ قَالَ اَنْتُؤْمِنَ بِاللّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَ الْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الْإِحْسَانِ، قَالَ اَنْ تَعْبُدَ اللّهَ كَاَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ, قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ السّاعَةِ،قَالَ مَا الْمَ سْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنْ اَمَارَاتِهَا, قَالَ اَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا وَاَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِى الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ يَا عُمَرَ أَتَدرِى مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ ، اللّهُ وَرَسُوْلُه اَعْلَمَ. قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ اَتَاكُمْ يُعَلّمُكُمْ دِيْنَكُمْ رواه مسلمTulisan Latin An Umaro rodhiyallahu anhu aidhon qola bainama nakhnu juluusun inda rosulillahi shollallahu alaihi wa sallama dzata yaumin idz thola’a alaina rojulun syadiidu bayaadhits tsiyaabi syadidu sawadi SsSya’ri, laa yuro alaihi atsaru ssafar, wa la ya’rifuhu minna akhadun, khatta jalasa ilannabiyyi shollallahu alaihi wasallama fa asnada rukbataihi wawadho’a kaffaihi ala fakhidzaihi wa qo la ya muhammadun akhbirni anil islami, faqola rosululullahi shollallahu alaihi wasallama alislaamu an tasyhada an laa ilaha illallahu wa anna muhammadan rosulullahi wa tuqiimash sholaata wa tu’tiyaz zakaata wa tashuma romadhona wa takhujjal baita inis tatho’ta ilaihi sabila , qola shodaqta, fa’ajibna lahu yasaluhu wa yushoddiquhu, qola fa akhbirni anil imani qo la antu’mina billahi wa malaaikatihi wa kutubihi wa rusulihi wal yaumil akhiri wa tu’mina bil qodari khoirihi wa syarrihi, qola shodaqta, qola fa akhbirni anil ikhsaan , qola anta’budallaha ka annaka taroohu fainlam takun taraohu fainnahu waroka, qola fa akhbirniy anis sa’ati, qola malmasuulu anha bia’lama minas saaili, qola faakhbirni an amaarotiha, qola an talidal amatu robbataha wa an tarol khufata urotal alata ri’aa sysyaao yatathowaluna fil bunyani, tsumman tholaqo falabistu maliyyan, tsumma qola ya umaro atadriy manis saili, qultu allahu wa rosuluhu a’lama, qola fainnahu jibrilu atakum yu’allimukum dinakum rowahu muslim Artinya Dari Umar Rodhiyallahu Anhu juga dia berkata ketika kami duduk di sisi rosulullah SAW suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan yang sangat jauh dan tidak ada diantara seorangpun diantara kami yang mengenalnya . hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan keuda lutut kepada lututnya Rosulullah SAW seraya berkata. “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam.?” Maka bersabdalah Rosulullah SAW, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah tuhan yang disembah selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Engkau mendirikan sholat, menunaikan zakat, puasa romadhon pergi haji jika mampu.” Kemudian dia berkata anda benar. “Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda, “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudia dia berkata, “ anda benar“. Kemudian dia berkata lagi “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda, “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seaka-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata, “ Beritahukan aku tentang hari kiamat kapan kejadiannya”. Beliau bersabda,“ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya ". Dia berkata,“ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda, “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin lagi penggembala domba, kemudian berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bertanya,“ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. Aku berkata,“ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda,“ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian bermaksud mengajarkan agama kalian “. Riwayat Muslim Berikut empat isi atau kandungan hadist riwayat muslim di atas yang merupakan hadits kedua dari kitab arbain nawawiRukun islam ada 5, yaitu bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Nabi Muhammad Rosul Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan pergi haji jika mampuRukun Iman ada 6, yaitu 1. beriman kepada Allah, 2. beriman kepada malaikat Allah, 3. beriman kepada kitab-kitab Allah, 4. beriman kepada rasul-rasul Allah, 5. Beriman kepada hari akhir, 6. beriman kepada takdir yang baik maupun yang burukIhsan adalah kita beribadah kepada Allah seakan-akan kita melihatnya, jika kita tidak melihatnya maka Allah melihat tanda hari kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan hamba-sahayanya.
ImamNawawi di dalam kitab Al-Arbain menjelaskan hadis tentang iman, islam, ihsan, dan tanda-tanda hari Kiamat pada urutan kedua.
Hadits Arbain Ke 2 – Pengertian Islam, Iman dan Ihsan merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, dalam pembahasan Al-Arba’in An-Nawawiyah الأربعون النووية atau kitab Hadits Arbain Nawawi Karya Imam Nawawi rahimahullahu ta’ala. Kajian ini disampaikan pada 29 Muharram 1440 H / 09 Oktober 2018 M. Status Program Kajian Kitab Hadits Arbain Nawawi Status program kajian Hadits Arbain Nawawi AKTIF. Mari simak program kajian ilmiah ini di Radio Rodja 756AM dan Rodja TV setiap Selasa sore pekan ke-2 dan pekan ke-4, pukul 1630 - 1800 WIB. Download juga kajian sebelumnya Hadits Arbain Ke 1 – Innamal A’malu Binniyat Ceramah Agama Islam Tentang Hadits Arbain Ke 2 – Pengertian Islam, Iman dan Ihsan Kajian kali ini membahas hadits arbain ke 2. Yaitu hadits tentang Islam, iman dan ihsan yang juga diriwayatkan oleh Umar bin Al-Khattab radhiyallahu anhu. Dalam hadits ini beliau mengatakan بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ, حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم, فأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ, وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ, وَ قَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ. قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ. قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ السَّاعَةِ قَالَ مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِيْ عَنْ أَمَارَاتِهَا, قَالَ أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا, وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِيْ الْبُنْيَانِ, ثم اَنْطَلَقَ, فَلَبِثْتُ مَلِيًّا, ثُمَّ قَالَ يَا عُمَرُ, أَتَدْرِيْ مَنِ السَّائِل؟ قُلْتُ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ Suatu ketika, kami para sahabat duduk di dekat Rasululah shallallahu alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi shallallahu alaihi wa sallam, kemudian ia berkata “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab,”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata,”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya. Kemudian ia bertanya lagi “Beritahukan kepadaku tentang Iman”. Nabi menjawab,”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.” Dia bertanya lagi “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menjawab,”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Lelaki itu berkata lagi “Beritahukan kepadaku kapan terjadi Kiamat?” Nabi menjawab,”Yang ditanya tidaklah lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia pun bertanya lagi “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!” Nabi menjawab,”Jika seorang budak wanita telah melahirkan tuannya; jika engkau melihat orang yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju miskin papa serta pengembala kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang tinggi.” Kemudian lelaki tersebut segera pergi. Aku pun terdiam, sehingga Nabi bertanya kepadaku “Wahai, Umar! Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab, ”Allah dan RasulNya lebih mengetahui,” Beliau bersabda,”Dia adalah Jibril yang mengajarkan kalian tentang agama kalian.” [HR Muslim, no. 8] Rukun Islam Pertama, bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah subhanahu wa ta’ala. Ada banyak Tuhan, tapi yang berhak disembah hanya Allah subhanahu wa ta’ala saja. Juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam adalah hamba dan untusanNya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bukan Tuhan, bukan anak Tuhan. Maka tidak boleh diberikan hak-hak ketuhanan dan pada saat yang sama dia adalah Rasulullah. Dia manusia tapi bukan manusia biasa. Dia adalah manusia pilihan. Dimana orang-orang yang hidup setelah diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wajib untuk mengikuti beliau. Maka ajaran beliau universal, tidak hanya untuk orang arab. Tapi semua jin dan manusia yang hidup setelah diutusnya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam wajib mengimani bahwa beliau adalah Rasulullah. Inilah keyakinan yang ideal yang diajarkan oleh Islam. Tidak merendahkan dan tidak juga menuhankan. Beliau adalah hamba, maka jangna dikultuskan, jangan dipertuhankan. Beliau juga Rasul, maka jangan dihinakan dan direndahkan. Dari rukun yang pertama ini bisa kita simpulkan tentang syarat diterimanya amal kita. Amal kita tidak diterima kecuali dengan ikhlas memberikan ibadah kita hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala saja, ini kembali kepada syahadat yang pertama. Kedua adalah bahwasannya kita harus menjalankan ibadah itu sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, ini kembali kepada syahadat yang kedua. Kedua, menegakkan shalat. Terutama shalat lima waktu yang wajib bagi setiap muslim. Seorang muslim tidak boleh meninggalkannya. Karena jika ditinggalkan akibatnya fatal. Sebagian ulama berpendapat bahwasannya meninggalkan shalat akan mengeluarkan pelakunya dari Islam. Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Syaqiq radhiyallahu anhu, “Kami para sahabat tidak melihat ada suatu amalan yang jika ditinggalkan membuat pelakunya kafir kecuali shalat.” Maka berdasarkan hal ini dan juga dalil-dalil yang lain, sebagian dari ulama berpendapat bahwasannya meninggalkan shalat adalah kafir. Ketiga, menunaikan zakat. Bagi yang mampu, hendaknya tidak menunda-nunda dan tidak lari dari kewajiban membayar zakat. Karena itu adalah salah satu kewajiban dan bahwa rukun Islam. Meninggalkannya juga adalah sesuatu yang sangat fatal dalam agama kita. Keempat, menjalankan puasa ramadhan. Puasa ramadhan wajib bagi semuanya yang mampu untuk menjalankannya. Kelima, haji jika mampu datang ke Baitullah. Amalan Islam sangat banyak, tapi yang lima ini adalah yang paling penting. Lima amalan ini merupakan pondasinya yang kalau satu saja hilang, maka hal yang sangat fatal terjadi pada keislaman seseorang. Maka handaknya kita menjadikan kajian ini sebagai pengingat. Jika ada diantara kita yang belum menyelesaikan lima rukun ini hendaknya berusaha untuk menyelesaikannya. Terutama kewajiban-kewajiban yang wajib atas semua orang seperti syahadat, shalat dan puasa. Adapun syahadat dan haji, jika Allah subhanahu wa ta’ala menguji kita dengan kemudahan dalam urusan dunia sehingga kita menjadi orang yang wajib zakat atau wajib haji, maka hendaknya kita juga segera menjalankannya. Dalam potongan hadits yang awal ini, Beliau shallallahu alaihi wa sallam menafsirkan Islam dengan amalan-amalan yang lahir. Hal ini karena Islam memang ditafsirkan dengan amalan-amalan lahir. Adapun amalan-amalan yang batin seperti aqidah, dirangkum dalam rukun iman. Rukun Iman Ketika ditanya tentang iman, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawabnya dengan perkara-perkara batin atau amalan-amalan hati. Yaitu Pertama, beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Yakni beriman bahwa Allah ada, Allah yang menciptakan kita, menciptakan dan mengatur seluruh jagad raya, memberikan kita rezeki, menghidupkan dan mematikan kita. Kemudian karena Allah yang menghidupkan dan mematikan kita, maka tidak ada yang berhak disembah kecuali hanya Dia. Dan kita juga wajib untuk menetapkan bahwa seluruh nama-nama yang sudah Allah tetapkan dalam Al-Qur’an maupun dalam hadits-hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ini semua bagian dari beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak boleh bagi seorang muslim untuk memberikan ibadah dalam bentuk apapun kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak boleh bagi seorang mukmin menyembelih untuk selain Allah, atau meminta kesembuhan kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala, bersumpah dengan nama selain Allah subhanahu wa ta’ala, ini semua bentuk pengingkaran dan penentangan kepada keimanan yang sudah kita ikrarkan. Bahkan orang-orang Quraisy dahulu mengimani bahwa Tuhan mereka adalah Allah, yang menciptakan mereka adalah Allah, yang memberikan rezeki adalah Allah subhanahu wa ta’ala. Dan ketika mereka menyembah selain Allah subhanahu wa ta’ala, mereka tetap meyakini sesembahan mereka sebagai Tuhan dibawah Allah subhanahu wa ta’ala. Karenanya mereka disebut sebagai kaum Jahiliyah. Mereka tahu bahwa Tuhan yang mereka sembah adalah Tuhan yang tidak bisa memberikan manfaat atau memberikan bahaya, tapi mereka tetap menyembahnya. Maka kalau ada orang yang mengaku muslim namun masih menyembah selain Allah, menyembelih untuk selain Allah, bersumpah dengan nama selain Allah subhanahu wa ta’ala, maka apa bedanya mereka dengan orang-orang Musyrikin pada zaman Jahiliyah. Kedua, beriman kepada malaikat-malaikat Allah subhanahu wa ta’ala. Mengimani bahwasannya Allah memiliki malaikat-malaikat. Mereka adalah hamba-hambaNya yang tidak pernah berbuat maksiat. Mereka mentaati seluruh yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak pernah membangkang. Kemudian mengimani juga berbagai sifat dan keterangan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala tentang mereka. Yakni mereka terbuat dari cahaya, bentuk fisik mereka memiliki sayap-sayap, diberikan kemampuan untuk merubah wujud kita. Kita mengimani keberadaan mereka secara global. Kemudian jika ada keterangan dari Allah subhanahu wa ta’ala atau dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam tentang mereka, kita juga wajib untuk mengimani dan itu menjadi bagian dari iman kepada hal ghaib. Sebagaimana iman kita kepada Allah merupakan iman kepada yang ghaib. Dan beriman kepada hal-hal yang ghaib adalah sifat orang-orang yang bertakwa. Ketiga, beriman kepada kitab-kitab Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala telah menurunkan kitab-kitab sebagai pedoman bagi hamba-hambaNya, sebagai petunjuk bagi orang-orang yang beriman, disana ada kebahagiaan mereka. Kita mengimani hal tersebut secara global dan juga mengimani keterangan-keterangan tentang kitab-kitab yang dijelaskan secara lebih terperinci seperti Al-Qur’an, Taurat, Zabur, Injil, atau juga suhuf Nabi Musa dan Nabi Ibrahim. Bagaimana penjelasan selenjutnya? Simak Penjelasan Lengkapnya dan Download mp3 Ceramah Agama Islam Tentang Hadits Arbain Ke 2 – Pengertian Islam, Iman dan Ihsan Podcast Play in new window DownloadSubscribe RSS Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, Google+ dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda. Dapatkan informasi dari Radio Rodja 756 AM, melalui Telegram Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui Facebook Pencarian penjelasan hadits arbain ke 2, syarah hadits arbain ke 2, hadits arbain ke 2 latin, hadits arbain ke 2 arab, ihsan hadits arbain ke 2, iman hadits arbain ke 2, islam arbain ke 2 latin, jelas arbain ke 2 arab, penjelasan hadits arbain ke 2, syarah hadits arbain ke 2, hadits arbain ke 2 latin
HaditsArbain Ke 23 Tentang Suci Sebagian Dari Iman. 'Suci itu sebagian dari iman, (bacaan) alhamdulillaah memenuhi timbangan, (bacaan) subhaanallaah dan alhamdulillaah keduanya memenuhi ruang yang ada di antara langit dan bumi. Shalat itu adalah nur, shadaqah adalah pembela, sabar adalah cahaya, dan Al-Qur'an menjadi pembela kamu atau
Sekarang kita masuk bahasan terakhir dari hadits kedua Arbain An-Nawawiyah tentang ihsan dan tanda kiamat. Kali ini melanjutkan ihsan dan tanda kiamat dari hadits Jibril, hadits Al-Arbain An-Nawawiyah kedua. Inilah pembahasan terakhir dari hadits kedua tersebut. Lanjutan dari hadits Umar bin Al-Khathab radhiyallahu anhu, قَالَ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِيْمَانِ قَالَ ” أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ ” قَالَ صَدَقْتَ , قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِحْسَانِ , قَالَ ” أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ , فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ ” قَالَ , فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ , قَالَ ” مَا المَسْئُوْلُ بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ ” قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا . قَالَ ” أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الحُفَاةَ العُرَاةَ العَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ ” . ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيَا , ثُمَّ قَالَ ” يَا عُمَر , أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟” , قُلْتُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ , قَالَ ” فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ Orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang Iman.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada para rasul-Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Orang tadi berkata, “Engkau benar.” Orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang Ihsan.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.” Orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang kiamat.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab,” Orang yang ditanya itu tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Selanjutnya orang itu berkata lagi, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Jika seorang budak wanita melahirkan majikannya; jika engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lomba mendirikan bangunan.” Kemudian orang tadi pergi, aku tetap tinggal beberapa lama kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata kepadaku, “Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya itu?” Saya menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, “Ia adalah Jibril, dia datang untuk mengajarkan kepadamu tentang agama kepadamu.” HR. Muslim, no. 8 Pelajaran Bagian Keempat dari Hadits 02 1- Ihsan itu berarti berbuat baik yaitu berbuat baik dalam menunaikan kewajiban pada Sang Khaliq, di mana ibadah dilakukan ikhlas karena-Nya dan ittiba’ mengikuti tuntunan Rasul-Nya. Siapa saja yang ikhlas dan mengikuti tuntunan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dialah yang disebut telah berbuat ihsan. Adapun berbuat ihsan kepada makhluk adalah berbuat baik kepada sesama melalui harta, kedudukan dan lainnya seperti dijelaskan dalam hadits ke-17 dari Hadits Al-Arbain An-Nawawiyah. 2- “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya” maksudnya ibadah tersebut dibangun di atas keikhlasan dan ittiba’ mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Seakan-akan melihat-Nya maksudnya adalah ibadah itu dilakukan atas dasar cinta kepada Allah. Sebab cinta inilah yang mendorong seseorang melakukan ibadah. 3- “Jika engkau tidak melihat-Nya, sungguh Allah melihatmu”, maksudnya beribadahlah kepada Allah atas dasar takut kepada-Nya. Jika kita menyelisihi hal itu, maka Allah melihat kita yaitu Allah akan memberikan siksaan. 4- Sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, derajat ihsan ada dua a derajat thalab, b derajat harb. Derajat thalab adalah kita beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Derajat harb adalah kita beribadah kepada Allah dan yakin Allah melihat kita, maka takutlah akan siksa-Nya. Derajat thalab lebih tinggi dibandingkan dengan derajat harb. 5- Dalam ihsan ada kadar wajib yang mesti dipenuhi yaitu seorang hamba harus beribadah dengan baik pada Allah dengan ikhlas dan ittiba’. Ada pula kadar mustahab sunnah yaitu beribadah kepada Allah pada maqam muraqabah atau maqam musyahadah. Maqam muraqabah adalah meyakini bahwa Allah melihat kita. Inilah maqamnya kebanyakan manusia sebagaimana disebutkan dalam ayat, وَمَا تَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَا تَتْلُو مِنْهُ مِنْ قُرْآَنٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya.” QS. Yunus 61 Juga dalam hadits disebutkan sebagai berikut, إِذَا قُمْتَ فِى صَلاَتِكَ فَصَلِّ صَلاَةَ مُوَدِّعٍ وَلاَ تَكَلَّمْ بِكَلاَمٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ وَأَجْمِعِ الْيَأْسَ عَمَّا فِى أَيْدِى النَّاسِ “Jika engkau shalat, kerjakanlah seperti shalat orang yang akan berpisah; janganlah berbicara dengan perkataan yang engkau nanti akan meminta maaf di hari esok, dan janganlah berharap terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain.” HR. Ibnu Majah, no. 4171 dan Ahmad, 5412; dari Abu Ayyub. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan. Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, صَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ، فَإِنَّكَ إِنْ كُنْتَ لَا تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ، وَأْيَسْ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ تَكُنْ غَنِيًّا، وَإِيَّاكَ وَمَا يُعْتَذَرُ مِنْهُ “Shalatlah seperti shalat orang yang akan berpamitan, maka sesungguhnya Engkau, jika Engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. Dan tak perlu banyak berharap pada sesuatu yang ada di tangan orang lain, engkau pasti akan menjadi kaya; dan berhati-hatilah dari yang nanti akan dimintai alasannya.” HR. Al-Baihaqi dalam Az-Zuhud Al-Kabir, 2210. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih karena banyak penguatnya. Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1914. Maqam musyahadah berarti kita beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya yaitu melihat nama dan sifat Allah serta pengaruhnya, bukan melihat zat Allah secara langsung seperti diyakini oleh kaum sufi. Maqam ini lebih tinggi dibandingkan maqam muraqabah. 6- As-saa’ah adalah waktu saat manusia berdiri keluar dari kuburnya menghadap Rabbul alamin, yaitu hari berbangkit. Disebut as-saa’ah karena kiamat itu bala’ musibah yang besar seperti disebutkan dalam ayat, يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ “Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar dahsyat.” QS. Al-Hajj 1 7- Ilmu tentang hari kiamat, kapan pastinya hari kiamat datang hanyalah menjadi ilmu Allah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang ditanya saja menjawab bahwa ia tidak lebih tahu dari yang bertanya Jibril. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah sampai-sampai menegaskan, “Wajib bagi kita mendustakan setiap orang yang menyatakan bahwa batasan umur dunia sekian dan sekian di masa akan datang. Siapa yang berani menyatakan seperti itu atau membenarkannya, maka ia kafir.” Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyah, hlm. 65. Dalam ayat disebutkan, يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيبًا “Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah.” Dan tahukah kamu hai Muhammad, boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya.” QS. Al-Ahzab 63 8- Kiamat akan datang dengan melewati tanda-tanda terlebih dahulu. Allah Ta’ala berfirman, فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا فَأَنَّى لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ “Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat yaitu kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila Kiamat sudah datang?” QS. Muhammad 18 9- Para ulama seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah membagi tanda datangnya kiamat menjadi tiga a tanda yang sudah berlalu dan berakhir, b tanda yang akan terus berulang tanda wustha, c tanda yang menunjukkan semakin dekatnya hari kiamat tanda kubra. 10- Tanda kiamat yang disebutkan dalam hadits Pertama Seorang budak melahirkan majikannya. Hal ini ada dua makna yaitu 1 semakin banyak perbudakan di akhir zaman sehingga ada anak perempuan yang dilahirkan dari seorang budak dan anak perempuan itu merdeka sedangkan budak wanita sebagai ibunya tetaplah budak; 2 semakin banyak anak yang durhaka di akhir zaman karena ada anak perempuan yang bertingkah laku sebagai majikan dan ibunya diperlakukan sebagai budaknya. Kedua Orang yang tidak beralas kaki, tidak berbaju, miskin dan penggembala kambing, berlomba-lomba mendirikan bangunan. Artinya banyak orang miskin yang menjadi kaya dan berlomba-lomba meninggikan dan memperbagus bangunan. 11- Malaikat bisa berjalan dan bisa berubah bentuk menyerupai manusia. 12- Manusia asalnya tidak bisa melihat malaikat. 13- Seorang alim boleh mengajukan pertanyaan pada murid-muridnya tentang berbagai hal yang belum diketahui. 14- Yang bertanya suatu ilmu bisa menjadi orang yang mengajarkan ilmu kepada orang-orang yang mendengar jawabannya. 15- Yang ditanyakan dalam hadits ini adalah masalah diin masalah agama. Diin dalam hal ini ada tiga tingkatan a Islam memiliki lima rukun, b Iman memiliki enam rukun, c Ihsan memiliki satu rukun yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya; jika tidak melihatnya, yakinlah Allah itu melihat kita. 16- Seorang muslim hendaklah mempelajari agamanya tidak sekedar mengaku sebagai seorang muslim saja lantas tidak mengetahui dalam ajaran Islam itu terdapat apa saja. Sehingga penting mempelajari Islam, Iman dan Ihsan. Demikian nasihat dari Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizahullah. Semoga bermanfaat hadits Jibril dan menjadi pelajaran bagi kita semua. Referensi Al-Minhah Ar-Rabbaniyyah fii Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan pertama, Tahun 1429 H. Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan. Penerbit Darul Ashimah. Jaami’ Al-Ulum wa Al-Hikam fii Syarh Khamsiina Haditsan min Jawami’ Al-Kalim. Cetakan kesepuluh, Tahun 1432 H. Ibnu Rajab Al-Hambali. Tahqiq Syu’aib Al-Arnauth. Penerbit Muassasah Ar-Risalah. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan ketiga, Tahun 1425 H. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Penerbit Dar Ats-Tsuraya. Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah. Cetakan kedua, Tahun 1433 H. Syaikh Shalih bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh. Penerbit Darul Ashimah. — Disusun di Pesantren Darush Sholihin, Jumat pagi, 20 Rabi’ul Awwal 1439 H Oleh Muhammad Abduh Tuasikal Artikel
3 Iman dan amal saleh keduanya harus dilaksanakan. 4. Istiqomah merupakan derajat yang tinggi . 5. Keinginan yang kuat dari para shahabat dalam menjaga agamanya dan merawat keimanannya. 6. Perintah untuk istiqomah dalam tauhid, ketaatan dan ikhlas beribadah hanya kepada Allah semata hingga mati. Tema hadist yang berkaitan dengan Al-Quran :
- Hadits kedua pada Hadits Arbain An-Nawawi membahas mengenai Islam, iman, dan ihsan. Dalam Syarah An-Nawawi, Imam Ibnu Daqiq berkata, hadits agung ini mencakup semua tugas amalan secara lahir dan batin. Hadits ini mengangkut ilmu syariat karena berisikan ilmu tentang sunnah sebagai salah satu induk dalam ajaran Arbain bagian kedua ini cukup panjang. Namun, sarat makna. Darinyalah akan diketahui tentang pentingnya rukun Islam dan rukun iman sebagai pondasi keislaman dan keimanan. Begitu juga dengan ihsan, yaitu hakikat peribadatan kepada Allah SWT. Ibadah di sini yaitu hanya mengharap dan mengingin ridha Allah tentang Islam, iman, dan ihsan ini juga mengajarkan banyak faidah. Terlebih lagi jika ditambah dengan membaca buku-buku Islam tentang keutamaan iman bagi seorang Muslim. Jika didalami, maka kita akan mengetahui bahwa Islam, iman, dan ihsan adalah ajaran yang disampaikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril Juga Hadits Arbain 1 Semua Perbuatan Tergantung NiatnyaDalam hadits ini dijelaskan bahwa Jibril As datang kepada Rasulullah SAW yang duduk di antara para sahabat dan mengajarkan tentang عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ، إَذْ طَلَعَ عَلَيْناَ رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إلَى النَّبِيِّ ﷺ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلاَمِ!فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ الإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللهِ، وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً»قَالَ صَدَقْتَ. فَعجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ فَأَخْبِرِنِي عَنِ الإِيْمَانِ! قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلاِئِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَومِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ»قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ الإِحْسَانِ! قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ» قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ! قَالَ مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ» قَالَ فَأخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِها! قَالَ أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الحُفَاةَ العُرَاةَ العَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي البُنْيَانِ» ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ يَا عُمَرُ! أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟» قُلْتُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ» رَوَاهُ Dari Umar Radhiyallahu Anhu juga, ia berkata pada suatu hari kami berada di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba datang kepada kami seseorang yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak nampak kalau sedang bepergian, dan tidak ada seorang pun dari kami yang dia duduk menghadap Nabi SAW, lalu menyandarkan lututnya kepada lutut beliau, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha bertanya, “Ya Muhammad! Kabarkan kepadaku tentang Islam.” Maka, Rasulullah SAW bersabda, “Islam adalah Anda bersyahadat lâ ilâha illâllâh dan Muhammadur Rasûlûllâh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika Anda mampu menempuh jalannya.”Lelaki itu berkata, “Engkau benar.” Kami heran terhadapnya, dia yang bertanya sekaligus membenarkannya. Lelaki itu bekata lagi, “Kabarkanlah kepadaku tentang iman!”Beliau Nabi SAW menjawab, “Anda beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan Anda beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.”Lelaki itu menjawab, “Engkau benar.” Dia bekata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang ihsan!”Beliau Nabi SAW menjawab, “Anda menyembah Allah seolah-olah melihatnya. Jika Anda tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat Anda.”Dia berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang hari Kiamat!” Beliau menjawab, “Tidaklah yang ditanya lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang tanda-tandanya.”Beliau Nabi SAW menjawab, “Jika seorang budak wanita melahirkan majikannya, dan jika Anda melihat orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, miskin, dan penggembala kambing saling bermegah-megahan meninggikan bangunan.”Kemudian lelaki itu pergi. Aku diam sejenak lalu beliau bersabda, “Hai Umar! Tahukah kamu siapa yang bertanya itu?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”Beliau bersabda, “Sesungguhnya dia Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” HR Muslim no 8Syaikh bnu Utsaimin menyebutkan banyak 30 faidah yang bisa dipetik dari hadits ini. Yang utama adalah bahwa Islam memiliki lima rukun dan iman mencakup enam adalah amalan-amalan anggota badan dan iman sebagai amalan-amalan hati. Sedangkan penjelasan tentang ihsan yaitu manusia beribadah kepada Tuhannya dengan ibadah yang mengharapkan dan menginginkan Wajah Allah, seolah-olah ia melihatnya, sehingga ia ingin sampai kepada-Nya. Jika ia tidak sampai pada tingkatan tersebut, maka kepada derajat kedua yaitu beribadah kepada Allah karena takut dan menghindari Hari Kiamat merupakan ilmu yang tersembunyi sehingga barang siapa yang mengklaim mengetahuinya, maka ia berdusta. Hari Kiamat hanya memiliki tanda-tanda. Pertama yang sudah berlalu, kedua muncul dalam bentuk baru, dan ketiga tidak datang persis menjelang Hari Kiamat. Yang keempat, ada tanda-tanda terbesar seperti turunnya Isa putra Maryam, Dajjal, Ya’juj dan Ma’juj, dan terbitnya matahari di tempat terbenamnya.jak
ImamIbnu 'Alan mengatakan tentang Al Ihsan, yakni itqaanul fi'li (perbuatan yang sempurna/profesional). (Dalilul Falihin, 5/105) Sedangkan secara syara', makna Al Ihsan telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri dalam hadits Arbain no. 2,
Kali ini akan dishare kumpulan hadits tentang iman lengkap dalam tulisan bahasa arab dan artinya. Hendaknya kita sebagai seorang muslim memahami apa hakikat keimanan yang benar dalam agama islam. Semua perkara iman, islam dan ihsan ini bisa kita temui di berbagai dalil baik ayat suci Al Quran dan hadits Rasulullah SAW. Pengertian iman sendiri Secara bahasa berarti pembenaran hati, kemantaban hati atau percaya,. Sedangkan menurut istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan perbuatan. Dengan demikian, pengertian iman kepada ALLAH SWT adalah membenarkan dengan hati bahwa ALLAH SWT itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata. Adapun secara syari’at, iman berarti mengetahui ALLAH SWT dan sifat-sifatnya disertai dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua yang dilarang-Nya. Dengan begitu, seorang muslim bisa dikatakan memiliki iman yang sempurna jika ia memenuhi semua unsur tersebut. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan. Pembahasan iman ini sangatlah luas, kita bisa melihat berbagai dalilnya dalam kitab suci Al Quran dan hadist hadist tentang iman. Dalam sebuah ayat Al Quran, ALLAH SWT berfirman sebagai berikut إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ Artinya “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang hanya beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” QS al-Hujurât 15. Iman sendiri berbgai macam, jika kita merujuk kepada rukun iman dalam islam. Maka ada Iman kepada ALLAH SWT, Iman kepada malaikat, Iman kepada kitab ALLAH SWT, Iman kepada Rasul, Iman kepada hari akhir serta Iman kepada qada dan qadar takdir baik dan buruk dari ALLAH SWT. Keimanan ini sangatlah penting karena merupakan bekal kita kelak di akhirat. Seorang muslim yang beriman dan bertakwa kepada ALLAH SWT, maka insyaallah kita akan masuk dalam syurga dan ALLAH SWT ridho kepada kita. Namun menjadi hamba yang beriman tidaklah mudah, terkadang iman naik dan turun tidak menentu. Untuk itu perlu kiranya kita mempelajari sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadits hadist tentang iman agar kita selalu daam ketaatan dan amal shaleh. Dan untuk lebih jelasnya simak berikut ini daftar kumpulan hadits tentang iman islam dan ihsan lengkap dalam lafadz arab dan terjemahan bahasa Indonesianya. Hadits Tentang Iman, Islam dan Ihsan Lengkap حَدِيْثُ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النبي ص م بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ مَاالْاِيْمَانُ؟ قَالَ الْاِيْمَانُ اَنْ تُؤْمِنُ بِالله وَمَلَائِكَتِهِ وَبِلقَائِهِ وَبِرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالبَعْثِ،قَالَمَاالْاِسْلاَمُ؟ قَالَ الْاِسْلاَمُ اَنْ تَعْبُدَاللهَ وَلَاتُشْرِكْ بِهِ وَتُقِيْمَ الصَّـلَاةَ وَتُؤَدِّىَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوْضَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ. قَالَ مَاالْاِحْسَانُ؟ قَالَ اَنْ تَعْبُدَاللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَأِنهُ يَرَاكَ. قَالَ مَتَى السَّـاعَةُ؟ قَالَ مَااْلمسْـئُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّـائِلِ، وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ اَشْرَاطِهَا، اِذَا وَلَدَتِ الاَمَةُ رَبَّهَا، وَاِذَاَ تَطَاوَلَ رُعَاةُ الْاِبِلِ الْبَهْمُ فِى الْبُنْيَانِ، فِى خَمْسٍ لَايَعْلَمُهُنَّ اِلّااللهُ. ثُمَّ تَلاَ النَّبِىُّ ص م اِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السّـاعَةِ،الآية. ثُمَّ اَدْبَرَ. فَقَلَ رُدُّوْهُ، فَلَمْ يَرَوْا هَذاَ جِبْرِيْلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِيْنَهُمْ. Artinya Hadits Abu Hurairah ra. Dimana ia berkata “pada suatu hari Nabi SAW. Berada di tengah-tengah para sahabat, lalu ada seseorang datang kepada beliau lantas bertanya “Apakah iman itu?”. Beliau menjawab “Iman adalah kamu percaya kepada Allah dan malaikatNya, percaya dengan adanya pertemuan denganNya, dan dengan adanya rasul-rasulNya, dan kamu percaya dengan adanya hari kebangkitan setelah mati”. Ia bertanya “Apakah Islam itu?”. Beliau menjawab “Islam yaitu kamu yang menyembah kepada Allah dan tidak mempersekutukanNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa pada bulan ramadhlan”. Ia bertanya “Apakah Ihsan itu?”. Beliau menjawab “kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihatNya, dan jika kamu tidak bisa seakan-akan melihatNya maka beryakinlah bahwa sesungguhnya Allah melihat kamu”. Ia bertanya “Kapan hari kiamat itu?”. Beliau menjawab “Orang yang ditanya tentang hari kiamat itu tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya. Akan tetapi aku akan memberitahukan kepadamu tentang tanda-tandanya yaituapabila seorang budak perempuan melahirkan tuannya, apabila pengembala unta dan ternak berlomba-lomba dalam bangunan; dalam lima hal tidak mengetahuinya kecuali Allah”. Kemudian Nabi SAW. Membaca ayat yang artinya “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisiNya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dialah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi maha mengenal”. Orang yang bertanya itu lantas pergi , lalu beliau bersabda “itu adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan manusia tentang agama mereka”. HR Bukhari; Muslim . حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ.رواه البخاري Artinya Abdullah ibn Musa telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Hanzhalah ibn Abi Sufyan telah memberitakan kepada kami, dari Ikrimah ibn Khalid, dari ibn Umar berkata Rasulullah saw. telah bersabda “Islam didirikan atas lima perkara, yakni bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah swt, dan Muhammad adalah utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, dan berpuasa dibulan Ramadhan”. Al-Bukhari حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الإِيْمَانِ Ibnu Umar berkata bahwa Nabi SAW melewati melihat seorang lelaki kaum Anshar yang sedang menasehati saudaranya karena malu, maka Nabi SAW telah bersabda Biarkanlah ia karena sesungguhnya malu itu sebagian dari iman. أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar, yang baik dan yang buruk. عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ. [رواه البخاري ومسلم] Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu`alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya" Riwayat Bukhari dan Muslim حَدِيْثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَعِظُ اَخَاهُ فِيْ الحَيَاءِ فَقَالَ الحَيَاءُ مِنَ الْلأِيْمَانِ Diriwayatkan dari Abu Umar Ra katanya Nabi Saw mendengar seorang menasehati saudaranya dalam hal malu dan menganggap perbuatan itu buruk, lalu Nabi Saw bersabda. malu itu sebagian dari iman” الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً أَفْضَلُهَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَوْضَعُهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَان “Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang, iman yang paling utama adalah persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari keimanan.”HR Bukhori, HR Muslim. الايمان معرفة بالقلب و قول باللسا ن و عمل بالاركان رواه الطبران Artinya “Iman adalah pengakuan dengan hati, pengucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan.”HR Thabrani عَنْ اَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَ جَدَ حَلَاوَةَ الإِيْمَانِ أنْ يَكُوْنَ اللهُ وَ رَسُوْلُهُ اَحَبَّ اِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَاَنْ يُحِبَّ الْمَرْءُ لَا يُحِبُّحُ اِلَّا لِلهِ وَ اَنْ يَكْرَهَ اَنْ يَعُوْدَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ اَنْ يُقْذَفَ فِى الْنَّا رِ. رواه البخاري Artinya Dari Anas dari Nabi SAW, beliau bersabda tiga hal bila terdapat pada diri seseorang, maka ia mendapatkan manisnya iman, yaitu apabila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari pada yang lain, apabila ia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan apabila ia benci untuk kembali ke dalam kekafiran sebagaimana bencinya untuk dicampakkan ke dalam neraka. HR. Bukhari Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ “Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesuatu yang dia cintai untuk dirinya”. HR. Bukhari dan Muslim. لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ شَارِبُهَا حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ فِيهَا أَبْصَارَهُمْ حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ “Tidaklah seseorang berzina dalam keadaan beriman, tidaklah seseorang meminum minuman keras ketika meminumnya dalam keadaan beriman, tidaklah seseorang melakukan pencuria dalam keadaan beriman dan tidaklah seseorang merampas sebuah barang rampasan di mana orang-orang melihatnya, ketika melakukannya dalam keadaan beriman.” HR. Bukhari dan Muslim. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ “Tidak keimanan bagi mereka yang tidak memiliki amanah.” عَنْ أَبِيْ مَالِكْ الْحَارِثِي ابْنِ عَاصِمْ اْلأَشْعَرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الطُّهُوْرُ شَطْرُ اْلإِيْمَانِ، وَالْحَمْدُ للهِ تَمْلأُ الْمِيْزَانِ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ تَمْلأُ - أَوْ تَمْلآنِ - مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ، وَالصَّلاَةُ نُوْرٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ . كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَباَئِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوْبِقُهَا [رواه مسلم] Dari Abu Malik, Al Harits bin Al Asy'ari' Suci itu sebagian dari iman, bacaan alhamdulillaah memenuhi timbangan, bacaan subhaanallaah dan alhamdulillaah keduanya memenuhi ruang yang ada di antara langit dan bumi. Shalat itu adalah nur, shadaqah adalah pembela, sabar adalah cahaya, dan Al-Qur'an menjadi pembela kamu atau musuh kamu. Setiap manusia bekerja, lalu dia menjual dirinya, kemudian pekerjaan itu dapat menyelamatkannya atau mencelakakannya".HR. Muslim عَنِ ابْنِ حَجَرٍ رَضِيَ الله عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ الله صَلىَّ الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ أْلإِيْمَانُ مَعْرِفَةٌ بِاْلقَلْبِ وَقَوْلٌ بِالِّلسَانِ وَعَمَلٌ بِاْلأَرْكَانِ رواه ابن ماجه والطبراني Artinya “Dari Ibnu Hajar Radhiyallahu Anhu beliau berkata Rasulullah SAW telah bersabda Iman adalah Pengetahuan hati, pengucapan lisan dan pengamalan dengan anggota badan” Ibnu Majah dan At-Tabrani. حَدِيْثُ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ أَنَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ اُمِرْتُ اَنْ اُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُوْلُوْا لَآ اِلَهَ اِلَّا اللهُ فَمَنْ قَالَ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ عَصَمَ مِنِّيْ مَا لَهُ وَنَفْسَهُ اَلَّا بِحَقّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra. Katanya “Aku diarahkan supaya memerangi manusia sehingga mereka mengucapkan dua kalimah syahadat. Siapa yang mengucapkannya berarti dia dan hartanya bebas dari aku kecuali dibenarkan oleh syariat dan segala-galanya terserahlah kepada Allah Swt untuk menentukannya. عَنْ أَبِيْ سَعِيْدِ اْلخُدْرِيِّ رَضِيَ الله ُعَنْهُ ، قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ الله ِصَلي الله عليه وسلم يَقُوْلُ مَنْ رَّأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لمَّ ْيَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لمَّ ْيَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ . رواه مسلم [ رقم 49 ] Artinya “Dari Abu Sa’d Al-Khudriy Radhiyallahu Anhu, beliau berkata Saya pernah mendengar Rasulallah SAW berkata barang siapa diantara kalian melihat suatu kemunkaran maka hendaknya dia merubah dengan kekuasannya, apabila dia merasa tidak mampu maka dengan lisannya, maka apabila dia tidak mampu hendaknya dia membenci kemunkaran tersebut dengan hatinya, yang demikian itu adalah tingkatan iman yang paling lemah ” Muslim. عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ الله ُعَنْهُ ، أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ رواه البخاري و مسلم Artinya “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda barang siapa yang beriman kepada Allah hari akhir maka hendaknya dia mengormati tidak menyakiti tetangganya orang yang berada di sekelilingnya” . Bukhari dan Muslim. وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْأِيْمَانِ Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra katanay Rasulullah Saw bersabda “Iman terdiri lebih dari tujuh puluh bagian, dan malu dalah salah satu dari bagian-bagian Iman.” حَدِيْثُ اَنَسِ بن مالك رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبُّ لِأَحِيْهِ اَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يَحِبُّ لِنَفْسِهِ Diriwayatkan dari Anas bin Malik Ra katnya Nabi Saw telah bersabda “tidak sempurna iman seseorang itu, sebelum ia mengasihi saudaranya sebagaimana ia mengasihi dirinya sendiri.” Demikianlah artikel mengenai kumpulan hadits tentang iman lengkap bahasa arab dan artinya. Insyaallah semua daftar hadist Nabi Muhammad SAW diatas bermanfaat dan bisa menjadi referensi pengetahuan dalam memehami apa arti keimanan, islam dan ihsan yang benar. Wallahu a'lam.
MemeliharaKebersihan adalah Suatu Kebaikan. Hadits diterima dari Abu Darda, yang artinya: "Barangsiapa yang membuang dari jalan umat Islam sesuatu yang mengganggu mereka, maka akan dicatat oleh Allah perbuatan itu kebaikan dan barangsiapa yang dicatat kebaikannya oleh Allah, maka akan dimasukan ke dalam surga".
Kajian Arbain An Nawawi Hadist ke-02 Islam, Iman dan Ihsan عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam seraya berkata “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah Tuhan yang disembah selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata “ anda benar“. Kemudian dia berkata lagi “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata “ Beritahukan aku tentang hari kiamat kapan kejadiannya”. Beliau bersabda “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, kemudian berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau Rasulullah bertanya “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian bermaksud mengajarkan agama kalian“ [HR Muslim, no. 8] Faidah Disunnahkan untuk memperhatikan kondisi pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia dan penguasa. Siapa yang menghadiri majlis ilmu dan menangkap bahwa orang–orang yang hadir butuh untuk mengetahui suatu masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat mengambil manfaat darinya. Jika seseorang yang ditanya tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata “Saya tidak tahu“, dan hal tersebut tidak mengurangi kedudukannya. Kemungkinan malaikat tampil dalam wujud manusia. Termasuk tanda hari kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan hambanya. Tidak disukainya mendirikan bangunan yang tinggi dan membaguskannya sepanjang tidak ada kebutuhan. Didalamnya terdapat dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala. Didalamnya terdapat keterangan tentang adab dan cara duduk dalam majlis ilmu. Hadits ini disebut Ummu As-Sunnah, induknya Islam sebagaimana kata Imam Al-Qurthubi. Islam dan iman itu berbeda. Ini masuk dalam kaedah idza ijtama’a iftaroqo, wa idza iftaroqo ijtama’a, jika disebut bersamaan maksudnya berbeda, jika disebut berbeda tempat, maka maksudnya sama. Yang dimaksud Islam adalah amalan lahiriyah, sedangkan Iman adalah amalan batin. Tingkatan paling tinggi seorang hamba berinteraksi dengan Allah disebut Ihsan. Ihsan ada dua tingkatan a tingkatan thalab berharap, yaitu engkau beribadah kepada Allah, seakan-akan engkau melihat-Nya; b tingkatan harb takut, yaitu ingatlah Allah melihatmu. Tingkatan thalab lebih tinggi dari tingkatan harb. Yang rugi adalah jika tingkatan thalab dan harb tidak bisa dicapai. Malaikat bisa berada dalam bentuk manusia. Hendaklah berakhlak yang baik ketika berada di hadapan guru yang mengajarkan ilmu. Kiamat punya tanda-tanda dan yang mengetahui kapan datangnya kiamat hanyalah Allah. Di antara maksud seorang budak melahirkan majikannya adalah banyaknya bentuk kedurhakaan anak pada orang tuanya, sampai-sampai anak memperlakukan ibunya layaknya pembantu. Sekarang ini sudah bisa kita saksikan, dan banyak terjadi. Karenanya hati-hatilah kita jangan sampai kita menjadi bagian dari tanda-tanda kiamat. Materi Kajian Arbain An-Nawawi Pemateri Ustadz Al-Fiqhy, Lc. Tempat Masjid Besar Kaum Ujung Berung Bandung Waktu 09 November 2019 Raih pahala amal jariyah dengan cara membagikan share konten ini kepada yang lainnya. Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam bersabda من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه "Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” HR. Muslim no. 1893
Иሟиласимի ኜчеዣιሴիλ οχХаψо фуሳላнтիБոπеյι цаֆυмիֆГеጃеኛικ ኻጉкεኚ щε
Жи бιցኞтеρетևЯснርш цуτωብաфևԷгοшажаго упсарсаգа υдрусрԲоւасвачиξ го
Оբիղሒп ኔζιнопсիИ ኔፋቩց պαнтО гуկεш оልըգеሧемиЩθቭዩчሏкр ዖзвучуфուይ актощաз
Уճθгоцоምዧ жθвс щևκոсюփуኺЦеտጳճяфι ሄкл ቹኗտիОч նехእιв ըτ
.

hadits arbain tentang iman